BeritaPolitik

Gobel Sebut Bonus Demografi Akan Jadi Beban Jika Hanya Menjadi Pasar Produk Impor

29
×

Gobel Sebut Bonus Demografi Akan Jadi Beban Jika Hanya Menjadi Pasar Produk Impor

Share this article
Wakil Ketua DPR RI Bidang Koordinator Industri dan Pembangunan (Korinbang), Rachmat Gobel. Foto: HUmas DPR Azka/Vel
Wakil Ketua DPR RI Bidang Koordinator Industri dan Pembangunan (Korinbang), Rachmat Gobel. Foto: HUmas DPR Azka/Vel

Barisan.id, – Wakil Ketua DPR RI Bidang Koordinator Industri dan Pembangunan (Korinbang), Rachmat Gobel, menyoroti potensi besar Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk yang sangat besar. Menurutnya, potensi ini dapat menjadi kekuatan tersendiri bagi Indonesia jika dimanfaatkan dengan baik.

“Jika tidak diberdayakan, maka jumlah penduduk yang besar akan menjadi beban yang sangat besar pula,” ujar Gobel. Senin (27/5/2024).

Gobel menjelaskan, jumlah penduduk yang besar berarti ketersediaan tenaga kerja yang besar, apalagi Indonesia sedang berada dalam fase bonus demografi. Ini berarti jumlah tenaga produktif sangat besar. Selain itu, jumlah penduduk yang besar berarti jumlah pasar yang besar.

“Jumlah penduduk yang besar ini yang bikin ngiler negara lain untuk menjadikan Indonesia sebagai target pasar mereka. Dengan segala cara pasti mau mereka lakukan. Jika pertahanan Indonesia mudah ditembus dan dibanjiri produk impor maka banyak kerugian yang menimpa Indonesia dan seperti memberi makan buaya yang kemudian mencabik-cabik kita sendiri. Ini namanya kebodohan yang berulang,” paparnya.

“Jika pertahanan Indonesia mudah ditembus dan dibanjiri produk impor maka banyak kerugian yang menimpa Indonesia dan seperti memberi makan buaya yang kemudian mencabik-cabik kita sendiri. Ini namanya kebodohan yang berulang,” imbuhnya.

Ia menilai, ada lima kerugian yang diungkapkan Gobel akibat Indonesia menjadi negara pelahap impor. Pertama, uang Indonesia untuk membiayai pekerja dan keluarga negara lain. Kedua, pekerja Indonesia kehilangan lapangan pekerjaan.

Ketiga, jika produk impor tersebut digunakan untuk proyek pemerintah maupun BUMN maka dana negara dan dana APBN digunakan untuk membiayai negara lain. Padahal negara dengan susah payah mengumpulkan pajak, bahkan Bea Cukai dihujat netizen akibat pengetatan masuknya barang dari luar negeri.

Keempat, akibat tidak terserapnya tenaga kerja karena industrinya kebajiran impor maka Indonesia kehilangan potensi tenaga-tenaga kreatif karena mereka menganggur. Kelima, akibat pengangguran yang meningkat maka kemiskinan pun meningkat.

“Mereka kemudian harus mendapat bansos maupun pembiayaan jaminan sosial yang ditanggung negara, yang semuanya menggunakan dana APBN. Jadi akibat jebolnya tanggul impor, Indonesia rugi berlipat-lipat,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *